Minggu, 27 Juli 2008

MEMBANGUN KEMITRAAN DENGAN SINERGI

Subang, Selama ini Kementrian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT) membina masyarakat yang belum punya jiwa wirausaha "Kita bangkitkan jiwa wira usahanya dulu, baru kita kasih modal," kata Meneg PDT kepada wartawan di Cijambe Subang Jawa Barat. Salah satunya adalah dengan mensinergikan masyarakat, perbankan dan pengusaha/dunia usaha melalui kemitraan yang dibangun antara ketiganya. Oleh karena pihak pemerintah merasa perlu membangun desa untuk lebih berpengalaman dalam bertahan ditengah krisis ekonomi. "Walau bagaimana pun bangsa Indonesia harus kuat bertahan berhadapan dengan berbagai krisis yang melanda yang sifatnya mendunia," tegas Meneg Lukman Edy.

Model kemitraan yang telah dibangun bukan membantu masyarakat yang sudah jadi justru pada masyarakat yang sangat kecil kemampuannya. Lebih lanjut menurut, Lukman Edy, pihak Kementerian PDT hanya memberikan payung untuk membuat skema pemberdayaan masyarakat ekonomi lokal dan pembangunan infrastruktur. Hingga bulan Juli 2008 telah tersalurkan bantuan bernilai sekitar 8 trilyun dan sisanya sebesar 8 trilyun bisa disalurkan hingga akhir tahun 2008 dan mencapai target sebesar Rp 14 trilyun.

Kepada para pelaku usaha kecil dilakukan pendampingan selama 3 tahun untuk mencari usaha yang tepat. Setelah 3 tahun baru dilepas dari pendampingan. Pemberdayaan masyarakat daerah tertinggal ini mempergunakan pola sinergi antara masyarakat, perbankan dan dunia usaha.

Kementrian negara PDT untuk memberdayakan masyarakat Indonesia telah mempersiapkan 6 instrumen pemberdayaan diantaranya:

         Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pedesaaan,

         Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan,

         Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK).,

         Percepatan pembangunan sosial ekonomi di daerah tertinggal (P2SEDT),

         Percepatan Pembangunan Produktifitas Wilayah di Kabupaten; dan,

         Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT)

Hal tersebut di uraikan oleh Mentri Negara PDT, HM. Lukman Edy, pada acara persmian "Kampoeng BNI" di Cijambe. Pada acara tersebut dilakukan teleconference antara "Kampoeng BNI" yang berlokasi di Cijambe Subang dan Ciamis. Dalam teleconference tersebut terjadi dialog antara Mentri PDT Lukman Edy dan Bupati Ciamis serta dialog bersama mitra antar "Kampoeng BNI" antar keduanya. Antara Kedua belah pihak kampung BNI saling bertukar pengalaman dalam pengelolaan kemitraan yang selama ini dilakukan.

Selaku mewakili Bupati Subang, Asda II Bidang Pembangunan, Drs. Komir Bastaman, M.Si, disertai jajaran kepala dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Oo Irtotolosi. Komir pada kesempatan itu menyampaikan salam hangat dari Bupati Subang dan  menyatakan rasa gembiranya atas kedatangan Mentri Negara PDT dan Mentri Negara BUMN, walaupun di Jawa Barat, Subang tidak termasuk sebagai wilayah tertinggal, Komir mengatakan bahwa dari 1,5 juta jiwa penduduk Subang 600 ribu diantaranya adalah masyarakat miskin. Oleh karena itu dengan keberadaan "Kampoeng BNI" bisa menjadi pemicu bangkitnya ekonomi rakyat. Apalagi Kabupaten Subang memiliki pola pembangunan berbasis gotong royong.

Dikatakan oleh Direktur BNI Gatot M. Suwondo bahwa "Kampoeng BNI" di Cirangkong Cijambe Subang ini merupakan pola kemitraan pertama di Indonesia. Karena dianggap berhasil, maka pihaknya melakukan duplikasi di wilayah Banjar Ciamis. "Selanjutnya kami akan me-replicated di wilayah-wilayah lainnya guna membangun kemitraan demi kesejahteraan masyarakat," ujar Gatot.

Usai melakukan teleconference kemudian melakukan presmian dengan ditandai menekan tombol sirine sebagai diresmikannya Kemitraan Kampoeng BNI sekaligus dipatenkannya model kemitraan "Kampoeng BNI".

Usai melakukan peresmian kemudian kedua menteri berkeliling meninjau produk kemitraan "Kampoeng BNI" Cijambe yang lebih besar bergerak dipembibitan sapi perah. Tetapi selain sapi perah terdapat berbagai produk lainnya. Selama kunjungan di Cijambe Subang Mentri BUMN Sofyan Jalil dan Meneg PDT Lukman Edy, mendapatkan penjelasan tentang produk yang dikelola di areal "Kampung BNI". Produk yang dikelola diantaranya reaktor sederhana pengolahan kotoran sapi menjadi biogas, instalasi pengolahan singkong menjadi bahan bakar premium dan penglelolaan madu dari lebah hutan.

Dalam peninjauan ke beberapa pengolahan, Sofyan Jalil didampingi langsung oleh Komisaris PT. Simpang Jaya Dua, H. Didi Supriyadi dan tim ahli masing-masing pengolahan. Dari sekian pengolahan yang ada, Kedua Menteri nampak antusias ketika mengunjungi reaktor pengolahan biogas dan pengolahan premium dari singkong. Ketertarikan keduanya karena negara tengah dirundung krisis energi. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai nilai jual konsumen yang relatif murah keduanya memiliki rencana untuk mengembangkan instalasi tersebut.


DADAN KEMBALI JUARA

Pembalap Subang Buktikan Potensinya
SUBANG, RAKA – Pembalap asal Subang yang tergabung dalam DAM Golden Motor BBS Subang Dadan Alamsyah kembali menunjukan kualitas balapnya dalam lanjutan balap motor Honda Racing Campionship seri ke 4 di sirkuit Gasibu monumen Perjuangan Bandung, Minggu (27/7).
Dadan yang turun di kelas standar pemula 110 cc Mp5, pada awal balapan, mendapat tekanan dari pesaing-pesaingnya, bahkan Dadan sempat tertnggal di posisi keempat, padahal pembalap yang masih berusia 15 tahun tersebut berada di strat awal.
"Berada di posisi strat nomor 1 sebenarnya kurang menguntungkan kalau di sirkuit ini, namun, beruntung saya bisa menyelesikan balapan dengan baik sehingga saya bisa naik podium dan menambah poin saya,"kata Dadan yang ditemui setelah balapan.
Kemenangan tersebut semakin memperkokoh posisi Dadan diperingkat pertama di kelasnya dengan pengumpulan poin sebanyak 91 poin, sedangkat diperingkat kedua, masih dipegang oleh pembalap asal Tanggerang yakni Rendi Aditia dengan nilai 74 poin.
Kini, Dadan hanya menunggu gelar juaranya, karena meskipun Dadan hanya memerlukan satu kemenangan lagi untuk menjadi juara di kelasnya, dan untuk seri kelima dan keenam atau terakhir, pembalap yang menjadi ikon Subang ini Akan mengikuti balap di Bali dan terakhir di Surabaya.
Selain Dadan, pembalap Subang yang juga meraih gelar juara dalam Honda Racing Campionship ini adalah rizky yang menjadi Juara kelima di kelas yang sama dengan Dadan Alamsyah, Ridwan merupakan pembalap yang baru turun di Balap tingkat nasaional dengan peraingan yang cukup ketat.
Sedangkan Adli M Taufik dari tim Subang Racing Team (SRT) yang menjadi juara dua di kelas pemula 110 CC lokal Jabar. Adli yang merupakan pembalap yang masih berusia dini ini mampu mengalahkan para seniornyadi dunia balap.
Adli merupakan pembalap yang tergabung dalam pembinaan balap motor Subang dan baru kali ini turun di kejuaran nasional yang diikuti oleh berbagai pembalap yzang ada di penjuuru nasional.
"Saya cukup senang dengan juara yang saya raih ini, dan dengan juara ini, memacu saya untuk terus latihan dengan ekstra keras, agar bisa menjadi pembalap profesioal dan bisa berlaga di tingkat yang lebih tinggi,"ujarnya.
Sementara itu, menurut Pembina balap motor Subang Pepen Purnama, dirinya merasa bangga dengan gelar juara yang diraih di para pembalap Subang, karena lanjutnya, dengan begitu para pembalap sudah ada kemajuan.
"Ini tinggal dikembangkan lagi, Subang ini sudah ada potensi, dan gelar yang diraih sekarang ini oleh para pembalap Subang ini, merupakan bukti dari potensi-potensi yang ada di para pembalap Subang, dan semoga dengan juara ini juga merupakan cambuk untuk bag pembalap yang lainnya agar terus berlatih dan meningkatkan prestasi,"ungkapnya.(dnr)


--
Teddy Widara
Jalur Resmi: 08179260849
Jalur Asyik   : 085722036669

Meneg PDT Minta Konsep Kemitraan "Kampung BNI" Dipatenkan

Kunjungan Informal MENEG PDT Ke Kampung BNI Cijambe ke Subang

Subang, Setelah melihat secara langsung konsep Kemitraan yang dibangun di "Kampung BNI" Cijambe Subang, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT) minta konsep kemitraan dapat dipatenkan. Karena menurut Lukman Edi, kemitraan ini dinilai ideal gabungan antara pengusaha, perbankan, dan masyarakat. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Ir. H. Muhammad Lukman Edy, M.Si, saat melakukan kunjungan ke "Kampung BNI" di Kecamatan Cijambe Subang pada 20 Juli 2008. Kunjungan tersebut adalah kunjungan secara informal untuk melihat secara langsung penerapan konsep kemitraan "Kampung BNI" dan berdialog langsung dengan pengusahanya, H. Didi Supriadi.

Menurut Lukam Edi, pihak Kementrian Meneg PDT, akan terus melihat contoh-contoh terbaik pola pembinaan masyarakat yang ideal terutama masyarakat di pedesaan. "Saya melihat ada hal yang menarik di sini. Saya rasa (konsep kemitraan "Kampung BNI") ini perlu dipatenkan," kata Lukman Edi. Konsep seperti ini perlu dipatenkan untuk dijadikan percontohan. Karena, menurut Lukam Edi, sangat ideal sekali gabungan antara keberpihakan perbankan, pengusaha dan rakyat.

Menurut Meneg, walaupun hingga kini tingkat keberhasilannya cukup baik, namun konsep Kemitraan "Kampung BNI" perlu diuji terus dan terus disempurnakan. Bahkan dari sisi pengusahanya sendiri telah melalui masa kritis. Yaitu suatu masa yang menentukan kelayakan program ini bisa berjalan atau tidak. "Ternyata setelah melewatinya program ini bisa berjalan dengan baik," lanjut Meneg.

Pihak Kementrian Negara PDT menganggap penting untuk mengembangkannya di beberapa wilayah lain. Karena konsep ini dianggap relevan dengan semangat rakyat Indonesia. Terlebih konsep ini berkembang di Kab. Subang yang memiliki pola pembangunan berbasis gotong-royong.

Oleh karena itu Kementrian Negara PDT akan mendorong penerapan konsep kemitraan ini di beberapa daerah lainnya. Rencananya konsep ini akan diterapkan di Sinjai, Denpasar, Bangli, Padang, Gorontalon, dan beberapa daerah lain di Jawa Barat seperti Garut dan Tasikmalaya.

Adapun konsep Kemitraan "Kampung BNI" di Cijambe Subang adalah menjalin kemitraan dalam pembibitan sapi perah dengan bantuan permodalan dari Bank BNI. Pola kemitraan yang pertama kali dijalankan adalah melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) Bank BNI dalam bentuk usaha pembibitan sapi. PT. Simpang Jaya Dua sebagai penjamin utama, menyediakan areal seluas 18,5 ha – yang kemudian dinamakan "Kampung BNI" – di atasnya dibangun sarana pembibitan berupa kandang 5 buah, kandang karantina, gudang pakan 4 buah, dan peralatan pemeliharaan ternak lainnya. Segala kelengkapan untuk proses pengajuan permodalan PKBL BNI, dipersiapkan oleh PT. Simpang Jaya Dua sebagai Inti.

Adapun tujuan menempatkan di areal "Kampung BNI", untuk memudahkan pengawasan dan evaluasi kinerja. Sedangkan mitra masyarakat selain mendapatkan bagi hasil usaha juga mendapatkan upah kerja yang besarnya berkisar Rp 25.000 – Rp 30.000 per hari.

Bagi hasil usaha adalah dari penjualan sapi perah yang sudah tidak menghasilkan susu dijadikan sapi potong. Dari hasil penjualan pihak mitra memperoleh bagian setelah dipotong biaya operasional.

Dari pembibitan sapi perah ini ternyata berkembang potensi lain yaitu mendayagunakan kotoran sapi sebagai bahan menjadi biogas dan pupuk. Biogas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk keperluan memasak dan pembangkit tenaga listrik. Restan/sisa olahan biogas baik yang cair maupun padat dapat digunakan langsung sebagai pupuk alami yang sangat baik untuk tumbuhan.

Setelah Berhasil menjalani usaha pembibitan sapi perah di "Kampung BNI" sejak tahun 2007, kini konsep "Kampung BNI" akan mulai dikembang di beberapa wilayah Indonesia. Terutama konsep kemitraan yang diterapkan selama ini.(Satriya)